Rabu, 04 Januari 2023

 


"What is a friend? A single soul dwelling in two bodies." Aristotle

Apa itu sahabat? Satu jiwa yang tinggal dalam dua tubuh.

 

Ikatan persahabatan sejatinya berkaitan dengan emosi dan psikologis yang dalam dari dua orang atau lebih. Di mana bahan bakarnya adalah kesetiaaan, kekariban dan kasih sayang. Layaknya makhluk sosial yang memerlukan individu  lain untuk melengkapi jalan hidupnya. Dan jika ada orang yang tak bisa hidup tanpa sahabat, itu adalah SAYA.

Sangat menyenangkan dikelilingi teman-teman yang baik dalam hidup. Akan tetapi hidup lebih berwarna jika memiliki sahabat. Seseorang yang kita panggil ‘RUMAH. Tempat kita berbagi kisah, berkeluh kesah, berbagi tawa dan tangis atau bersama mentertawakan kerasnya hidup.

Dalam kisah kali ini saya tidak hanya bercerita tentang satu sahabat, tapi saya akan bercerita tentang tiga sahabat saya. (sstttt karena ketiga-tiganya bergabung di antologi yang sama, bisa geger negara api jika hanya menulis salah satunya wkwkwkwk)

Yang pertama, seseorang yang kupanggil ‘rumah’ adalah Chaula Handayani. Ikatan persahabatan kami terjalin cukup lama hampir 17 tahun. Ada sebuah ungkapan bahwa seseorang akan berkumpul dengan golongannya yang sekufu. It’s alright. Ibarat peribahasa Jawa kaya mimi lan mintuna. Hubungan dua orang yang erat, dan sepadan. Ya itulah kami. Pemikiran, ide, hobi, kegemaran bahkan level “kegilaan” kami sama. Bonding yang terjalin begitu kuat. Feeling yang tercipta ter senada. Apalagi kami sama-sama menjadi team teaching. Partner dan rekan kerja di kelas satu.

Selama 10 tahun kami membangun mimpi berdua, memiliki dunia kecil di mana hanya ada aku dan dia. Bersamanya terpenuhi segala rasa, tercukupi segala pinta. Apa yang kupikirkan belum tersampaikan dia sudah merasa. Saat hatinya gulana, mulut belum terucap aku sudah mengetahuinya. Kami tak butuh siapapun jua. Its enough for me and her. Waktu Minggu yang menjadi penanda satu pekan seringkali kami salahkan. Karena menjadi jeda bagi kami untuk tak bersua. Hanya satu hari berselang, tapi cerita yang ingin  kami rajut berdua begitu sesak membuncah. Ahh kami seringkali tak sabar untuk segera berjumpa.

Satu kebiasaan yang acap kami lakukan berdua adalah jalan-jalan. Biasanya dalam satu Minggu selalu ada waktu untuk kami berdua merefresh segala penat. Entah itu jalan ke mall, makan di restoran atau sekedar jalan-jalan di taman Kota Malang, Sambil hang out berdua ada saja cerita lucu yang membuat suasana riuh dengan tawa. Jika kalian bertanya apa ndak bosan selalu berdua? No… tidak. Karena setiap hari selalu tersaji menu dalam warna yang berbeda. Kadang hijau, biru, hitam atau merah muda. Bagaimana kami merasa bosan jika kebersamaan kami layaknya udara yang kami hirup? Kami sesak napas tanpanya. Merasa lelah tanpa rumah tempat berdermaga, dan tak bisa terbang jauh dengan sayap yang patah. Persahabatan kami solid. Saling menguatkan, mengukuhkan dan melengkapi. Aku adalah seseorang yang merasakan berlipat sakit saat sahabatku terluka. Aku adalah seseorang yang merasakan berlipat sedih saat sahabatku nelangsa. Itulah gambaranku yang mencintai sahabatnya begitu dalam.

 Hingga Allah bekehendak lain, kami terpisahkan oleh suatu peristiwa. Rupanya Allah ‘cemburu’ dengan cinta kami berdua. Cinta yang terlalu. Allah hanya ingin ciptaanNya lebih mencintaiNya di bandingkan mencintai makhluk lainnya. Di usia pertemanan kami yang ke 10 Allah menguji kami berdua. Chaula adalah sosok yang erat memegang teguh prinsipnya. Apalagi jika itu berkaitan dengan harga diri. Sebuah peristiwa terjadi di sekolah kami hingga menyentil harga diri dan mengusik prinsip hidupnya. Kekokohan hatinya saat itu setegar karang. Segala bujuk, rayu hingga ancaman dariku tak membuatnya bergeming. Ia memutuskan keluar dengan meninggalkan sekeping hati yang patah. Akhirnya diusia persahabatan kami ke 10 dia pergi meninggalkanku. Kami sama-sama nelangsa karena tlah kehilangan rumah.

Runtuhlah duniaku sejak saat itu. Hari-hari yang suram terus menaungiku. Ku ingin berteriak pada dunia, aku jatuh tanpamu. Tapi seolah dunia menutup mata dan telinga atas protes kami berdua. Selang tiga-empat bulan kami baru bisa move on menerima segala suratan cerita. LDR kami lalui. Sebagai gantinya pesan whatsApp menjadi pengganti diri. Dalam satu bulan kami sisihkan satu hari untuk bersama-sama. Me time. Menghapus jutaan rindu dan mengalirkan kisah yang terbendung bagai aliran air tersumbat yang membuncah.

Kini persahabatan kami telah memasuki angka 17, ternyata jarak tak menghalangi rajutan rasa sayang kami berdua. Insyaallah kami akan tetap bergandengan tangan menua bersama.

                                                            -----000-----

Engkau seperti pagi, berpijar bak mentari yang mengepakkan sayap semangat

Kau adalah mentari yang selalu datang dengan 'selamat pagi' yang mengingatku

 saat kesedihan datang

Dan tetap tinggal saat senyumku kembali terang.

 

Mungkin di antara pembaca ada yang mengenali gaya bahasa pada diksi di atas. Diksi yang levelnya jauh di atasku. Deretan kata apik yang membuatku jatuh cinta pada penulisnya. Ya jatuh cinta. Jika biasanya cinta datang dari mata, maka kali ini cinta datang dari rasa. Betul rasa keindahan.

 

Awalnya hubungan kami hanya sebatas peserta dan narasumber. Tempatku bertanya, diskusi dan sharing. Aku adalah seseorang yang memulai hubungan dengan mengandalkan intuisi. Saat feelingku merasa ‘klik’ maka aku akan melangkah. Berdiskusi dengannya aku merasa nyaman, dan enjoy. Aku memberanikan diri mendekatinya. Seringkali aku repotin dia dengan pertanyaan seputar menulis. Walaupun itu hanya alibi untuk lebih mendekat padanya.

 

Ibaratnya putaran waktu, semakin aku berlari semakin menjauh. Semakin ku mendekat kian menghindar. Sikap dinginnya acapkali mencipta gigilku. Kesombongannya membuatku semakin kukuhkan hatiku. Aku pasti bisa membuatnya membuka diri untuk singgah di hatinya. Mengalir saja rasa sayangku hadir untuknya.  Entah karena sang waktu yang lelah berlari, atau hati yang mendingin itu mencair. Akhirnya perlahan ia membuka pintu hatinya untukku.

 

Butuh usaha untuk menaklukan hati batu itu. Hati yang dia bentengi dengan karang hanya untuk membatasi kisahnya dari dunia luar. Saat bersamanya aku menjadi kakak yang  siaga melindungi adiknya. Menjadi sandaran bagi rasa gelisah dan sukanya. Aku siapkan diriku untuk menjadi rumah baginya saat dia ingin pulang.

 

Hubungan persahabatan itu seperti halnya pacaran, Kadang tenang dan acapkali bergejolak bak air pasang. Itu yang sering kami alami. Kuakui merawat hubungan persahabatan LDR itu jauh lebih melelahkan ketimbang bersahabat di dunia nyata. Acapkali kesalahpahaman mewarnai kisah kami berdua. Perbedaan bahasa, latar belakang budaya turut andil di dalamnya.

 

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri. Deretan bulan dan tahun bukan jaminan bagi persahabatan untuk lepas dari perselisihan. Tidak peduli besar atau kecil permasalahannya. Berselisih dengan sahabat seringkali membuat kita merasa serba salah. Itu yang selalu sama-sama kami rasakan saat aura seteru melingkupi.

 

Sebab masalah hanya sepele, PERKATAAN. Yup terkadang salah memahami kalimat. Salah dalam penyampaian, meruncing pada salah paham yang menaikkan level emosi. Intinya kami sama-sama batu. Orang yang keras kepala dan enggan mengalah. Tapi semua itu tak pernah berlangsung lama. Cukup dua hari saja. Satu hari untuk instropeksi, dan satu hari untuk saling menyampaikan keluh kesah. Dan kelarlah masalah hanya dalam dua hari.

 

Terkadang konflik bisa menjadi tolok ukur persahabatan. Apakah engkau hanya teman biasa ataukah benar-benar seorang sahabat sejati. Konon semakin banyak berantem dan kamu memilih tetap bertahan satu sama lain. |Itu artinya kalian adalah sahabat sejati. But, jangan dicoba berseteru yaa, rasanya benar-benar tidak enak.

 

Kini usia persahabatan kami memasuki tahun kedua. Anehnya setiap kali berselisih seolah menambah takaran cinta dan sayang kami satu sama lain. Insyaallah kami semakin memahami satu sama lain. Mencoba bertahan walau dalam hubungan yang sebatas pesan dan emoticon.

 

Kalian masih penasaran siapakah sahabat onlineku? Yaa dialah Maydearly the Queen of diction. Si Jaim yang lembut hatinya.

 

-----000-----

 

Dewasa, renyah dan humble. Siapa yang tak ingin bersahabat dengan sosok yang demikian. Dia yang selalu mendukungku.  Ringan tangan, dan selalu siap membantu. Selalu bersedia menjadikan dirinya ‘rumah’ bagi setiap kisah warna-warniku.

Kami bergabung dalam kelas menulis yang sama. Yaitu di gelombang 21. Saat itu kami sama-sama menjadi panitia closing. Sering diskusi dan zoom bareng. Belum ada sinyal untuk bersahabat. Just friend saja. Kemudian dia mengulang di gelombang 24. Saat itu secara tak sengaja kami lebih intens berkomunikasi dan berdiskusi.

Semakin ke sini banyak kecocokan tercipta di antara kami berdua. Betul kiranya ungkapan sahabat adalah satu jiwa dalam dua raga. Dua raga yang berbeda tapi seolah sama. Langkah kami senada dalam rasa yang seirama. Mengalir saja. Tergelak dalam canda, empati saat berduka dan tertawa jumawa dalam derai perayaan. Ringan tanpa beban. Saling membully dan mencandai. Tak ada rasa emosi yang menjadi. Karena kami sama-sama tahu, hati kami hanya ingin sekedar menghibur diri.  Kami sadar di antara kami banyak perbedaan. Jika ada dua sisi sungai, selalu  ada jembatan untuk menghubungkan. Jembatan kami adalah rasa kasih sayang. Alangkah serunya menerima segala perbedaan untuk bersama melukis satu keindahan.

Apa karena usia tak jauh beda  menjadikan kami selangkah? Maybe yes or no. Saat ini kami hanya merasa nyaman saat bersama. Kokoh saat merajut asa. Cukup sudah menjadi alasan  kuat bagi kami untuk tetap berjalan bersama. Bersamanya aku berani melukis warnaku apa adanya. Tanpa pencitraan dan tendensi aneka rupa. It’s me ucapku. Inilah wajahku tanpa topeng sempurna. Semakin dekat dengan seseorang akan tampak siapa aku adanya. Aku akan menampakkan sisiku yang berbeda. Sisi yang terkadang tertutupi oleh tuntutan  zona nyaman. Warnaku biru bukan putih abu-abu. Hebatnya Tazah mau menerimaku tanpa penawaran.

Jangan mengharap orang lain melewati samudra, jika kau sendiri tak mau melewati genangan air untuknya. Kami siapkan ruang hati untuk tempat berbagi. Merelakan sebagian waktu untuk berkomunikasi. Walau itu hanya sepatah kata dan emoticon sebagai wujud kami saling peduli.

Tazah Emut kepadamu kutitipkan sekeping rasa cinta untuk kita jaga bersama.

 

-----000-----

Saat hati mulai terketuk dengan uluran kasih sayang, segera bukalah pintu hatimu. Jarak, ruang dan perbedaan bukan menjadi alasan untuk menghindar. Karena Allah tak membutuhkan alasan saat menitipkan sepotong rasa cinta pada hambaNya. Tergantung pada kita. Membunuh bibit cinta itu sebelum berkembang, ataukah merawatnya hingga bertunas dan bercabang. Hingga kelak dahannya yang rindang memberi rasa teduh untuk bersandar.

Jika ingin mendapatkan sahabat yang baik, tanyakan pada dirimu. Sudahkah engkau menjadi sahabat yang baik pula. Jika memiliki seorang sahabat genggam erat dia, jaga dan rawatlah dengan sepenuh cinta. Karena melepaskan itu lebih mudah daripada mendapatkannya.

 

"I would rather walk with a friend in the dark, than alone in the light" Helen Keller

Aku lebih suka berjalan dengan seorang teman dalam gelap, daripada sendirian dalam terang

 

 

 

 

 

 

Rabu, 28 September 2022


 

 

Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk apapun kamu, sahabat sejati bukan lah yang memiliki persamaan tapi mereka yang memiliki pengertian terhadap setiap perbedaan

 

Mengenalnya sekitar satu tahun yang lalu di Kelas Belajar menulis gelombang 21. Seperti dengan sahabat satu grup lainnya, biasa saja tidak ada kemistri. Hanya sekedar tahu dengan nama penanya bunda bhisma. Ooh mungkin itu nama salah satu anaknya pikirku saat itu. Hingga kelas belajar berakhir kedekatan itu belum juga berawal padahal beberapa kali melakukan zoom meet untuk acara closing BM.

 

Entah darimana awalnya kedekatan itu terjalin tetiba menjadi dekat, sahabat tempat curhat, berkeluh kesah padahal dunia nyata belum pernah mempertemukan, hanya sebatas maya tapi layaknya saudara.

 

Bunda Bhisma si preman Arema (julukan aku ya) orangnya sedikit keras kepala ketika emosinya terpancing dia akan meledak ledak mengeluarkan semua isi hatinya. Dan akan mengambil keputusan tanpa pikir panjang. Tapi kemarahannya hanya sesaat dia akan kembali luluh ketika emosinya sudah mereda. Satu yang kusalut darinya meskipun mudah emosi hatinya lembut, mudah memaafkan. Padahal tidak sedikit orang yang sulit membuka hati untuk memaafkan kesalahan orang yang telah membekas dihati. Ini tidak berlaku baginya, itu yang membuatku bangga dan bahagia punya sahabat seperti bunda Bhisma. Meskipun preman hatinya tetap pink. Dia si hati seluas samudera. Love you so much 

 

Hari ini Bunda Bhisma Ulang tahun tepat tanggal 29 September, entah yang keberapa aku pun tak tahu, satu hal yang pasti berapa pun umurmu do'a terbaik untukmu sahabatku. 

 

Menjadi sahabat terbaikmu adalah kehormatan terbesar dalam hidupku. Tidak ada yang mendukungku sepertimu, sahabatku. Maaf aku tidak bisa menyusun kata kata indah untukmu, aku juga tidak bisa memberi sesuatu yang berharga, hanya do'a yang bisa kulangitkan untuk sahabatku yang ada di Malang. 

 

اللٌهم طَوٌِلْ عُمُورَنَا وَصَحٌِح اَجْسَادَنَا ونَوٌّر قُلُوبَنَا وثَبٌِت اِيمَانَنَا وَاَحسِن اَعمَالَنَا ووَسٌِع اَرزَاقَنَا وَ اِلَى الخير قَرٌِبنَا وَعَنِ الشٌَرٌِ اَبعِدنَا وَاقضِ حَوَائِجَنَا فِى الدٌِينِ و الدنيا وَالأَخِرَة اِنٌَكَ على كُلٌِ شَيئٍ قَدِيرٍ

 

Sahabat Online

 



"Selemah-lemah manusia ialah orang yang tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang menyia-nyiakan sahabat yang telah dicari." Ali Bin Abi Thalib

Tentang September 2021, kuasku terjebak dalam  cerita penuh makna. Ruang maya mempertemukan kita dalam sebuah rajutan aksara. Sebuah pesan masuk tanpa basa-basi menggiring perhatianku pada layar untuk terus berguman dan berbalas pesan.

"Assalamualaikum Bunda, Perkenalkan Ini Widya, saya mau ikut Antologi cerita Faksi. Boleh gak tentang mengajar di Sekolah?" Tanya Buk Wid penuh harap.

"Boleh, Bunda!" Jawabku dengan emot senyum.

"Baiklah Bunda, akan saya kirim lewat email ya, sampun" balas nya dengan ramah.

"Siap Bunda!" Jawabku dengan emot penuh cinta.

Hari berjalan menjadi berminggu, minggu berlari menuju berbulan, sebuah waktu terus berotasi dalam ruang virtual. Entah, sinyal apa yang membawa ia kepadaku. Bahkan ketika udara bertiup bak jelmaan pesan dari Buk Wied.

Dari balik dinding hatiku yang dingin, aku tetap menasbihkan egoku untuk bersikap biasa saja, aku tak peduli tentang dini hari yang menegggelamkan pijar bintang sang malam. Bagiku, semua normal saja.

Acap kali ia mendekati, acap kali aku mengabaikan. Padahal mimpinya hanya sederhana, cukup dengan menjadi sahabat atas setiap momen di linimasanya. Namun, hatiku tetap angkuh memamerkan penolakan bak senja menolak malam dalam derai hujan penuh nestapa.

Aku masih ingat ribuan alasan yang ku lontarkan begitu lantang. Berkelit atas padatnya sebuah kesibukan. Eloknya, jiwanya tak pernah gentar meski perasaannya tercincang tapi laku nya begitu anggun dalam balutan kesabaran.

Sang waktu semakin bersaksi ada beberapa kecewa  yang ia sandingkan dalam nanar. Lantas ia pun eja dalam bait panjang pesan maya. Hari itu aku meminta maaf, bahwa melupakannya aku belum bisa, dan hatiku masih saja mengeja namanya sebagai rasa hilafku.

Semangkuk harapan kemudian aku tawarkan sebagai sebuah pembelaan atas egoku yang rindang. Berusaha dengan keras memperbaiki laku nan arogan. Hingga akhirnya aku ingin berdamai dengan keadaan. Entahlah, untuk apa aku hindari toh bersahabat maya juga disertakan sebuah rasa asam manis  rujak bumbu, kopi hitam kupu-kupu. Marah dalam diam sesal penuh rindu. Jelas yang kujadikan sahabat adalah manusia bukan sebuah Hp yang tersenyum dalam emoji.

Aku melamun dalam temaram, sedemikian aku mengabaikannya sekuat ia mengejarku bak mengejar mentari yang selalu senyum dalam pagi. Akhirnya, aku siapkan lencana hati untuk ku jadikan sebuah rumah tempat sahabat online ku berkeluh kesah. Agar ia bisa bernafas dal pori-pori kedamaian. Dengan keras kujadikan jiwa ini sebagai tempat berlari dari letihnya senja saat berpulang.

Semakin lekat kita bersua dalam maya, harusnya semakin dekat kita menyusun singgasana yang utuh. Namun gemuruh sesekali berteriak di atas kenyataan bahwa kita terkadang saling ego. Bertengkar atas pesan yang terlampau diratapi, menumbuk beriringan dengan letupan emosi. Memenggal jarak bak bumi dan angkasa, padahal jarak kita hanya terhitung jari, semudah klik dan emoji.

Kenapa kerap kali kita perbincangkan sebagai alasan atas pertikaian yang tak sefaham. Keadaan kita memang sehat, tapi terkadang jiwa kita dibuat sekarat. Pada akhirnya kita saling mematahkan, hingga debar yang dirasa mengganggu tidurku. Sampai hatiku bergumam, 'aku tak suka pertengkatan ini'.

Hingga ahkirnya aku tersadar bahwa daun-daun yang jatuh di atap rumah pun adalah ia yang berkorban demi jiwa yang lain. Tentangmu bagaikan obat Paracetamol, pahit namun mampu menjadi analgetik. Hadirmu mendewasakan, menggiring lara agar tetap tegar melangkah yang akhirnya menjelma menjadi sebuah kekuatan dalam nurani. Nampak keindahan yang kemilau melebihi kemilau bintang di angkasa. Keiklasanmu menyanyangiku membawa teduh yang berpendar menaungi deretan jiwaku yang gersang.

Setiap bait percakapan yang kita bincangkan, akan menguat dalam labirin ingatan, menjadi elok dan utuh bernaung dalam tema  persahabatan. Selamanya aku akan mengenangmu sebagai bunyi keindahan. Kan ku katakan pada udara agar bterbentuk pusaran abadi di rotasi bumi, membawa pusara rindu yang terus kita syukuri. Aku menyerumu dalam maya, merupa wajah dalam doa dan bismillah. Dengan cinta engkau mengubahku. Karena cinta selalu bisa mengubah apa yang selama ini sulit dirubah.

Sementara cinta dan angkuh pernah berpesta pora, akhirnya aku tenggelam dalam dekapan hangat persahabatan. Terimakasih selalu menjagaku dalam doa, dibandingkan dengan cintamu bahkan semesta pun nampak kerdil di pelupuku. Tak ada yang bisa kupersembahkan di hari jadimu selain doa dan cinta yang tulus dari nadiku.

I Love You to the Moon and Back

Maydearly

 

Sabtu, 24 September 2022

MI KHADIJAH

 



Mimpi penuh asa berbalut dalam doa dan usaha

Inspirasi ibadah mewarnai dalam setiap langkah

Karakter dan akhlak mulia membalut diri dalam visi utama

Harapan berjaya bersinar menguatkan dalam letih lelah

Aksara berpendar luas selebaran cakrawala

Dalam tim kita berjaya melejitkan prestasi setinggi sinaran surya

Iring beriring berderap satukan potensi dalam satu nama

Junjung tinggi ajaran nabi melebur melukisi setiap jiwa

Antarkan jiwa-jiwa putih dalam tuangan kasih  penuhi takaran cinta

Harsa membuncah saat rinaimu memberi tanda MI Khadijah jaya.

SAHABAT

 


Sayap kami saling menyangga

Arungi berdua gelap letihnya dunia

Hadirkan setiap warna membungkam resah yang ada

Abaikan setiap mata munafik yang bersorak dalam duka

Biarkan tangan kami saling tergenggam, menguatkan dalam balutan doa

Atau mentertawakan takdir yang dengan seenaknya mengatur hilir mudik nestapa

Tak usah dengarkan mereka, cukup bersamamu hatiku jauh dari gundah gulana.

KELUARGA

 


Kuletakkan namamu dalam puncak piramida

Engkau menjadi alasan utama, ku bertahan di dunia

Letih lesuku menguap hanya dengan mengeja namamu

Udara beraroma cinta bertebaran penuh candu

Ada selaksa rindu saat ragaku menjauh

Ribuan doa berotasi beredar terpahat kukuh

Galaksi cinta bagi setiap pusaran rindu

Antarkan setiap ragu melaju tangguh.

RAKHA BISMA IZDIHAR

 



Rinaimu berpijar di pelataran merah jambu

Antarkan nyanyian syukur dalam kidung syahdu

Kau ditakdirkan sebagai penguat dalamnya rasa rindu

Hadir ditengah sepinya malam berbalut doa yang riuh

Anakku… hadirmu menjadi pelengkap cinta kasih ibu.

 

Bicaramu tegas tak kenal ragu

Inginmu kuat menjulang di langit biru

Senyum simpul selalu manja merayu

Membuat marah ibu meleleh dan luluh

Anakku, rasa romantismu padaku sungguh terlalu.

ALTHAFIAN NAZIR





Anakku..

Lintasan waktu berpacu berkejaran dengan takdir

Tanpa mau dieja dan berkompromi

Hitungan detik melaju cepat dalam barisan hari, bulan dan tahun

Antarkan anganku saat usiamu yang puput bertumbuh dewasa

Fenomena nyata yang tak bisa ditampik oleh setiap bunda

Ingin rasaku merayu sang waktu, janganlah terlalu cepat melaju

Ahh mengapa kau bertumbuh dewasa tanpa bisa kujeda

Nyanyian penghantar tidurmu saja baru kuakhiri.

 

Namun kini menggantung seakan enggan disuarakan lagi

Aku hanya ingin menimang mimpi kecilmu menjadi nyata

Zahir dalam terang menebarkan selaksa rasa cinta

Iringimu dalam tangkupan seribu doa

Raih kemuliaan dunia dan surgaNya.


Sabtu, 17 September 2022

Dear Sahabat Onlineku

  

Maafkan aku Jauh membawamu pada samudera cerita imajinasi 

Mula rasanya biasa saja, namun seiring waktu berlalu rasa itu muncul seperti cuaca yang bergantian. Kadang dingin, kadang panas, dan acap kali tawar.

Rentetan detik kemudian perlahan-lahan membawa kita pada kumpulan kisah ini. Hingga hati ini merasa jika engkau seperti pagi, bepijar bak mentari yang mengepakan sayap semangat. 

Hati ini terisi. Seperti rindu yang pergi menuju muaranya. Kau seperti penyangga di sisi kalbuku. Rasa kosong dari luka yang bersebab mengecewakan.

Kepada bumi yang berotasi dan langit yang mengibarkan udara, aku hanya ingin katakan terimakasih telah mengungkapkan temani hari dalam lika liku.

Aku hanya ingin katakan padamu, aku sedang berada di tengah keriangan elegi yang memaksa nafasku menjadi sesak. 

Ada yang selalu ku ingat, tentang petuah mu jika hidup harus sepantas nya berjalan. Hidup untuk menyapa, berbagi, dan ramah pada siapa saja bahkan pada mereka yang menyapa batin ini begitu sesak.

Entah mengapa ragaku kerap patah hati. Melebihi senja yang melarungkan malam dalam pekat, hingga aku tersungkur dalam nanar jika memikirkan memang harus dicukupkan. 

Hidup itu pertunjukan seni yang menggairahkan, memanjakan mata dalam bahasa pemrograman logika sampai kita tau cara menerjemahkan luka.

Dear Sahabat Online ku 

Aku mencoba menyelesaikan semua kegelisahan agar bangkit dari sesak yang bertubi. 

Maafkan aku atas segala khilaf yang ku perbuat, kegelisahan ku yang melebihi urat dewasaku. Aku sudah menangis dalam pori udara yang bisu. Dan kini aku ingin tertawa meski sebentar saja.

Semoga kau adalah mentari yang selalu datang dengan 'selamat pagi' yang mengingatku saat kesedihan datang. Dan tetap tinggal saat senyumku kembali terang.


Sabtu, 03 September 2022

Saat Rindu

 

Disaat merindui

Nasi yang kumakan seolah titik titik putih

Kumpulan buih mimpimu.

Yang kau ceritakan kala senja itu.


Kubaca buku sajalah..

Agar terusir wajahmu dari ingatku.

Tapi apa...???

Buku sejarah yang kubaca mengapa jadi puisi cinta?

Huruf hurufnya berbaris membentuk majas bersajak,

yang bercerita tentang simponi rindu dari orkestra cinta kita

Lantas Aku harus bagaimana?

Lebih baik kututup bukuku sajalah.


Ku ambil bantalku dan bersiap dalam lelapku.

Tapi apa... ???

Seolah tergambar menjelma nyata

engkau menari nari di mimpiku..

Tertawa menyeringai seakan sukses menancapkan belati rindu.

Arrggghhh...


Aku harus bagaimana?


Segera kubasuh wajahku.

Mata yang selalu melukis senyummu..

Kepala yang penat terkungkung rinduku...

Semuanyaaaa....


Sekarang aku

Bercengkrama dengan Tuhanku.

Kutundukkan rasa rindu dalam sujud

Kubasuh  dilema dengan dzikir

Dan barulah rindu itu hilang

 berjatuhan bersama air mataku.


Tuhan ku titipkan rinduku kepadaMu

Sabtu, 20 Agustus 2022

Cahya Muharram


 

Ahlan wa sahlan Ya Muharram

Kuketuk pintu harapan

Mengukir segala tekad penuh perbaikan

Diri yang bersimbah dosa

ampun dalam pertobatan.

 

Kusibak jendela masa lalu

Saat Rosulku membawakan panji-panji kebenaran

Walau dera dan cacian menyayat sakit 

Rosulku tetap berdiri tegak tak gentar melantunkan lafal suci

Laailaaa hailoh

 

Sekejap cahyamu memancar keseluruh penjuru bumi

Membawa langkah kaki   hijrah menuju tanah kemenangan

yang tertulis dalam takdir nan suci

Membuka gerbang kehidupan baru

Harapan cemerlang akan terwujudnya janji ilahi rabi.

 

Lalu bagaimana dengan diri ini?

Dosaku menumpuk di puncak kekufuran

Dunia yang terlalu jumawa kukejar kejar

Dan dzikir yang hanya sebiji sawi yang selalu kubanggakan.

 

Ya Rabb

Di awal muharramMu yang agung

Izinkan lisan ini selalu menyebut asmaMu

Membasuh dosa dengan segenap Ar RahmanMu

Menunduk menetes rasa keangkuhan dalam rengkuhan Takbir kebesaran Mu.

Izinkan ya Robb.. Izinkan..

Malang dan Rindu yang Bersemi

Malang dan Rindu yang Bersemi Widya Arema Jeda waktu antara kopdar ketiga penulis KBMN menuju kopdar keempat terasa begitu panjang hingga ta...