Jumat, 02 Januari 2026

Malang dan Rindu yang Bersemi


Malang dan Rindu yang Bersemi

Widya Arema


Jeda waktu antara kopdar ketiga penulis KBMN menuju kopdar keempat terasa begitu panjang hingga tanpa sadar kami terlena. Waktu seakan mengajak kami menyusuri labirin sunyi yang berliku, sampai akhirnya tersadar bahwa ia telah berlari jauh menyisakan hanya tiga bulan di genggaman. Maka, persiapan untuk sebuah ajang nasional yang akan menghimpun penulis dari seluruh penjuru negeri pun harus digelar dengan langkah-langkah cepat.

Sesuai kesepakatan awal, Kota Malang dipilih sebagai lokasi kopdar kali ini. Ya, Kota Malang, kota tempat aku dilahirkan, menetap, dan merajut serpihan kisah hidupku. Kota yang sejuk udaranya, elok panoramanya, serta kaya akan destinasi wisata yang memanjakan mata dan rasa.

Sebagai tuan rumah, seperti sudah menjadi kebiasaan, aku dianggap memiliki banyak referensi tentang Kota Malang. Maka tanpa banyak tanya, aku dipercaya mengemban amanah sebagai sie acara pada kopdar penulis keempat ini.

Namun, qadarullah… tahun 2025 menjadi tahun terberat dalam perjalanan hidupku. Ujian yang tak pernah sedikit pun terlintas di benakku datang menghampiri keluarga kami. Hari-hari kulalui dengan jatuh dan bangun, tangis dan air mata yang seolah setia menemani langkah. Di tengah kondisi itu, keraguan mulai menyelinap, akankah aku mampu menjalankan tugas ini dengan maksimal?

Keresahan itu kuceritakan kepada Teh NDY, sahabat dekat yang selalu menjadi tempatku berbagi. Aku juga meminta pandangan kepada Tazah Emut, yang tak pernah lelah memberi dukungan atas apa pun keputusan yang kuambil. Mereka menyarankan fokus pada keluarga dulu. Dengan hati yang berat, akhirnya kusampaikan kegundahan yang sejak lama menari di benakku kepada ibu ketua.

“Kak Ewi, maaf jika kali ini aku tidak bisa menjalankan tugas dengan maksimal,” ucapku lirih.

“Tenaga dan pikiranku tengah tercurah sepenuhnya untuk anak dan keluargaku,” lanjutku, hampir berbisik.

Namun, tanggapan Kak Helwiyah selaku ketua kopdar kali ini justru menjadi penawar bagi beban yang kupikul.

“Jeng, fokuslah pada keluarga. Serahkan urusan acara kepada teman-teman. Insyaallah, semuanya akan berjalan dengan baik,” tuturnya tenang.


Kalimat sederhana itu menjelma pelukan hangat yang menguatkanku bahwa dalam kebersamaan, tak ada beban yang harus dipikul sendirian.

Begitulah akhirnya, aku tak sepenuhnya fokus mengurusi acara ini. Sebagai seseorang yang terbiasa bekerja secara profesional, ada rasa malu yang diam-diam menyelinap ke relung hati, sebab kali ini aku tak mampu menjalankan amanah dengan optimal. Namun aku bersyukur, semesta menghadiahkanku sahabat-sahabat yang setia menguatkan. Bersama mereka, kisah dan tugas dibagi, lelah batin pun bisa bersandar sejenak.

Berbekal kalimat Bismillah serta dukungan terbaik dari keluarga dan sahabat, aku tetap mampu hadir dan ikut meramaikan kopdar kali ini, meski dengan langkah yang tak sekuat biasanya.

Ketika hati telah dirundung rindu, sesungguhnya tak ada alasan untuk menunda pertemuan. Memang, minimnya animo peserta, terhalang jarak yang jauh, ongkos perjalanan, serta kesibukan di sekolah masing-masing membuat kopdar kali ini berlangsung dengan jumlah peserta yang terbatas. Namun semangat para panitia justru berkobar, laksana nyala api yang tak pernah padam. Mereka menjahit harapan demi harapan, hingga akhirnya satu kenyataan indah terwujud di hadapan mata: pertemuan yang penuh makna.

Inilah kami sekumpulan penulis yang menolak berdamai dengan rindu. Bagi kami, rindu bukan untuk dipelihara terlalu lama. Rindu harus menemukan ujungnya. Hanya ada satu kata : rindu ini harus segera berujung temu.

Persiapan selanjutnya melesat bak roller coaster. Menanjak, menukik, lalu terjun bebas diiringi teriakan riuh yang tak pernah reda. Setiap kekurangan di satu sisi segera ditambal oleh gerak cepat tim yang sigap dan penuh kepedulian. Keterbatasan dana akibat minimnya peserta pun terjawab oleh uluran tangan para donatur berhati mulia, yang turut menyokong pertemuan ini, untuk sebuah temu yang lahir dari rasa rindu.


Sebagai sie acara, tugasku tak kalah riweuh. Aku harus memastikan setiap rangkaian acara berjalan aman, tertib, dan lancar. Untuk kegiatan studi banding literasi, panitia sepakat memilih sekolahku, MI Khadijah. Sebuah kepercayaan yang membanggakan, sebab sekolah ini dinilai sebagai salah satu sekolah swasta unggulan di Kota Malang, dengan ragam prestasi yang telah terukir.

Tak hanya itu, daftar destinasi wisata yang wajib dikunjungi pun menjadi bagian dari tanggung jawabku. Menyusun perjalanan agar tak sekadar berjalan, tetapi juga berkesan.

Ada keistimewaan tersendiri pada kopdar keempat ini. Jika biasanya para narasumber hanya hadir melalui layar virtual Zoom, kali ini empat narasumber berkenan hadir secara luring. Kehadiran mereka seolah menjadi penegas bahwa kopdar ini bukan sekadar agenda, melainkan perayaan perjumpaan. Hangat, nyata, dan penuh makna.

Tak main-main narasumber di kopdar 4 ini, antara lain Pofesor. Dr.  Ngainun Naim, M.H.I selaku guru besar UIN Sayid Rahmatullah, Dr. Mudafiatun Isriyah, M.Pd, GPM dosen UNIPAR Jember, konselor dan mediator, Dr Daswatia Astuty, M.Pd pegiat literasi dari Makasar, Dr. Much. Khoiri, M.S.I dosen Unesa, dan Dr. Abdul Khaer, M.Pd selaku kepala BBGTK Provinsi Jawa Timur. Sebuah kehormatan dan kesempatan langka bertemu dengan para penulis andal yang peduli dengan dunia literasi.

Alhamdulillah, rasa syukur tak henti-hentinya mengalir dari lisan kami. Kopdar keempat pun berlangsung dengan lancar, seolah setiap ikhtiar yang dititipkan pada langit dijawab dengan kemudahan. Wajah-wajah sumringah yang saling melepas rindu menjadi pemandangan paling indah menghangatkan hati siapa pun yang menyaksikannya.

Pelukan kangen menebas sekat ruang dan waktu, meluruhkan perbedaan suku dan latar belakang yang selama ini hanya terhubung lewat layar kaca. Udara dipenuhi getar rindu yang menguar, sementara kata-kata cinta dan kasih sayang mengalun lembut, bak buluh perindu yang merintih dalam keheningan.

Alhamdulillah, Allah memudahkan ikatan silaturahmi ini. Kami yang terpisah oleh ribuan kilometer. Kami yang berbeda bahasa dan suku. Pada akhirnya menyatu dalam satu rasa, satu makna, dan satu kata yang sama yakni: RINDU.

Terima kasih telah singgah di Kota Malang. Kota rindu yang selalu membuka pelukan bagi siapa saja yang mengunjungnya. Semoga tiga hari kebersamaan ini menjadi simpul pengikat silaturahmi di antara kita, yang kelak tak mudah terurai oleh jarak dan waktu.

Kenanglah saat-saat kita berdendang sepanjang perjalanan, di dalam bus yang setia mengantar menuju tujuan. Biarlah tawa dan nada yang terlantun menjelma kenangan yang tak lekang oleh waktu. Kepanikan kecil ketika suara di zoom tak terdengar, kiranya menjadi bumbu rindu kisah sederhana yang kelak mengundang senyum saat diingat kembali.

Teriakan ketakutan saat wahana roller coaster meluncur deras di Jatim Park 3, biarlah menjadi cerita yang terus bergema menghidupkan kembali adrenalin dan tawa yang pernah kita bagi bersama.

Terima kasih, sahabat-sahabat literasi, atas kerja keras dan kekompakan yang terjalin indah. Dalam segala keterbatasan, kita mampu mewujudkan mimpi bersama. Terima kasih telah menyisihkan satu ruang di hati kalian untuk selalu merawat rindu akan perjumpaan.

Sampai jumpa di kopdar selanjutnya, di Banten. Di sanalah kita akan kembali mengukir kenangan dengan kisah yang lebih seru, lebih hangat, dan tentu saja, lebih bermakna. See you again.

Sabtu, 07 Juni 2025

Resensi Buku


 Judul Buku : Hujan

Pengarang : Tere Liye

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2016 

Cetakan : 27

Tebal Buku : 320 halaman

Hujan, sebuah novel yang bercerita tentang pertemanan seorang gadis bernama Lail. Ia memiliki ibu rumah tangga dan ayah seorang ekspatriat. Hari pertama masuk ke sekolah kelas 8 tidaklah menyenangkan karena bencana alam yang dahsyat yang belum pernah ada dalam sepanjang sejarah umat manusia. Ia harus kehilangan kedua orang tuanya di saat itu. Berminggu-minggu dia merasa terpuruk seakan tidak percaya dengan kejadian  tersebut. Namun, dalam keterpurukan tersebut ia ditemani oleh seorang anak laki-laki yang baik dan rendah hati bernama Esok. Anak laki-laki itu senasib dengan Lail, ia juga kehilangan keluarganya. Esok adalah orang yang jenius dan baik hati. Di umurnya yang muda, ia membuat teknologi yang sangat canggih untuk mengatasi kepunahan manusia. 

Buku ini tidak menceritakan hubungan mereka berdua saja. Terkadang Lail cemburu terhadap Esok yang dekat dengan seorang anak perempuan yang jauh lebih cantik dari lainnya. Lail juga memiliki kehidupannya sendiri di panti sosial dengan teman-temannya. 


Buku ini termasuk dalam buku fiksi, jadi isi cerita dan tokoh nya berupa fiktif. Buku ini ditulis oleh seorang penulis terkenal. Tere Liye, penulis asli Sumatera yang lahir pada 21 Mei 1979, telah mengukir namanya sebagai salah satu penulis terkemuka di Indonesia sejak debutnya pada tahun 2005. Dibesarkan di pedalaman Sumatera dalam keluarga sederhana dengan orang tua yang bekerja sebagai petani, Tere Liye memiliki bakat luar biasa dalam membangun cerita yang menarik dan menggerakkan pembaca

Senin, 10 Februari 2025

NDY

 NDY



Netra jingga terbias jauh

Untai baris kata dalam bait senja

Riuh binar warnai lukisan rindu. 


Dimensi afeksi tercipta saat kau hadir

Waktu berhenti dalam adiwarna

Iringi bayu menghilir meghana di ujung akash. 


Yayu aku merinduimu tiap waktu

Ayunkan gempita harsa di tiap petikan katamu

Nayanikamu selalu nirmala dalam amerta. 

Tatapan matamu bagai swastamita di relung hatiku.

Izinkan kudekap namamu dalam tiap doaku.

Senin, 03 Februari 2025

SADAR

 


Sadar

Widya Arema

 

Pada selembar kertas aku bertanya

Mengapa begitu sesak coretan tanpa makna

Melengkung mendatar tak berupa

Membingungkan saja umpatku saat membaca.

 

Pada angin yang berhembus aku berkata

Mengapa riapnya tak tentu arah

Membuyarkan konde yang kuuntai sejak lama

Cukup sepoi saja tak usah berlebihan makiku.

 

Aku, kamu dan kita berdiri sejajar di bait rasa

Saling bersitatap tanpa kata

Seolah ucapan semahal parfum tuan

Yang menunjuk semena pada baju lusuh di kolong meja.

 

Aku tahu rasa itu bukan untukku

Bodohnya aku terbuai dalam pijar itu

Terhentak sadar siapa aku

Mencintaimu adalah hal yang tak layak bagiku.

 

Malang, 02 Februari 2025

 

 

 

 

Minggu, 02 Februari 2025

Prosais

 


“Berkunjunglah ke jantungku, bukan sebagai tamu. Tetapi sebagai

pemilik rumah, sebab di sana kau yang akan tinggal selamanya.”

 

Mencintaimu bagiku suatu keniscayaan. Kau hadir bagai senja nan megah. Siluetmu hadirkan gempita yang kunikmati dalam senyap. Mungkin bagimu hadirku hanyalah angin. Terkadang datang menggoyang pelepahmu. Sesekali menerbangkan kelopak kering yang mulai berguguran dari rantingmu. Ada tapi tak berarti. Sadar,  aku hanyalah ombak yang menghilir menuju pantai. Setiap kali datang hadirkan sejuk, tapi bukan untuk kau genggam.

Aku mencintaimu seperti aliran sungai menuju laut. Dalam setiap desirnya ada doa yang terselipkan. Doa yang membuatku untuk tetap percaya. Bahwa mencintaimu adalah kekuatan terbesar yang aku miliki. Kau menghadirkan oase dalam kerontangnya dahaga. . Hadirmu bagai pelangi seusai badai datang menerjang. Menghidupkan riap asa berderap dalam tiap hentakku

Aku mencintaimu dalam diam. Bahkan hanya dengan mengeja namamu cukup membuat kucup hatiku merekah. Biarkan kujaga rasa itu dalam lanskap megah yang bertahta. Kau adalah barisan aksara dalam setiap puisi yang kucipta. Hadirku bagai jeda yang kadang sengaja terlupa. Maka biarkan itu semua berlalu dalam ikatan tanpa nama. Aku ingin engkau tahu, mencintaimu adalah sebuah anugerah.

 

 

KECEWA


 

KECEWA
-Widya-

 

 

Purnama yang kupunya

Sinaran emasnya kupersembahkan untukmu

Bilur-bilur jingga yang memerah

Membalut sepimu dalam senja.

 

Udara yang merotasi seputaran

Kau  hirup habis tak tersisa

Dan aku pasrah dalam sesak napas

Binasa...

 

Luka yang acapkali kau beri

Seolah candu yang selalu kunanti

Berdiri pongah di atas kepalaku

Dengan kedua kaki menganga 

Dan aku terpuruk di antara keduanya

 

Aku memujamu seolah dewangga

Titahmu bak sabda pandita

Kupersembahkan secawan hatiku tak tersisa

Hanya untuk kau ludahi dalam jumawa.

 

Aku terdiam di antara deru malam

Merenung dalam kebisuan yang meremang

Laksana bumerang yang menghantam

Tercerai berai dan terus menata

Tiap sudut kepingan yang lantak.

 

Empedu itu tetap kutelan

Pahitnya menyeruak dalam tiap titik nadi

Menghamba aku dalam penghinaan

Lucuti kesadaran

Dalam tangis yang bertaburan.

 

Aku adalah sosok itu

Yang terhantam tercerai

Tak peduli berapa kali luka itu kau bagi.

 

Bulan bahkan berkelakar

Mencibir otak kosong yang kukuh kupertahankan

Di antara rasa perih dan rasa takut kehilangan

            Aku terbaring lunglai di antaranya.

 

            Malang, 02 Februari 2025

Minggu, 27 Oktober 2024

Peserta Selundupan yang Beruntung



Dering ponsel membuat jeda aktivitasku. Sebuah suara lembut menyapa syandu. “Halo sayang, bunda akan berkunjung ke Malang, bisakah kita bertemu?”, ucap bunda Kanjeng mendayu. Senyum lebar tersaji di wajahku, rasa rindu seakan hadir merayu. “Bunda, aku juga rindu”, pasti akan kutunaikan rasa itu dalam temu.
Hari Sabtu, aku melaju menuju kota Batu. Bersama sahabat literasi yang menemaniku, kubawa semua rasa rinduku. Bismillah, jadikan ini sebagai bukti ikatan silaturahmi titah dari Tuhanku.
Aula luas nan megah tersaji di depan mata. Tak kaleng-kaleng daftar peserta yang berada di sana. Semua menghadirkan rasa kagum di dalam dada, ah apakah aku bisa berkawan dengan beliau semua. Suara hatiku berharap  bertalu bergema.

Ternyata benar, seorang penulis itu memiliki warna senada. Benang merah langsung terkait seketika. Rasa jengah cair dalam riuh canda. Hatiku berbisik penuh harap, aku ingin menjadi bagian dari mereka. Penulis hebat yang slalu menjaga konsisten dalam dunianya.

Genggaman tangan bunda mengajak aku turut serta. Menuju aula luas nan megah berkarpet merah. Menjadi peserta selundupan membuat aku merasa jengah. Sesaat kami segera larut dalam paparan narasumber yang luar biasa. Wawasan ilmu penulis, pengalaman beliau menjadi penulis menggaung merotasi udara dalam aula. Motivasi yang diberi bangunkan rasa malas yang selalu bertahta semena. Tekadku pun seketika membuncah, aku akan membuat buku solo ketiga. Walaupun sekarang itu hanya sebatas wacana semoga langkah kaki ini selalu terjaga. 

Beruntungnya aku, peserta selundupan yang hadir di ajang bergengsi kopdar penulis nusantara. Saat namaku dipanggil moderator dengan menggema. Untuk menerima hadiah berupa tanda mata.

Segera aku bergegas dengan cepat. Sebuah buku dari Pak Prof Ngainun kupegang dengan erat. Seakan tak ingin aku berpaling dari sampul bukunya walau sesaat. Semoga hadiah ini menjadi pengingat yang kuat. Untuk segera menulis buku solo dengan rikat.
Terimakasih atas ikatan yang tak bernama. Menerima orang baru ini tanpa memilah. Walaupun ilmu yang kupunya tak ubah seujung kuku jua. Tapi ketulusan beliau membuat dadaku bergetar penuh arupa rasa. Semoga Allah menjaga Anda semua dalam rindang kasih sayangNya. 

Alhamdulillah, segala puji bagi Robbku yang maha kuasa. Beruntung aku dipertemukan dengan teman-teman baru. Saling mengingatkan untuk selalu rajin menulis sesuatu. Menggores kertas dengan melodi yang merdu. Semoga semangat yang membuncah  hadirkan warna baru. Menghilir menguat dalam satu kata. Aku pasti bisa seperti mereka.


Minggu, 08 Oktober 2023

PEJUANG ILMU

 *Tarian Pejuang Ilmu*


Seberkas sinar pagi menyapa langit

Menyebar memberi dekap yang hangat

Berdentang genta kecil di nurani

Semangat membuncah, tak kunjung padam. 



Wadah ilmu kujinjing di bahu

Sesungging senyum iringi kicau nan merdu

Langkah kaki melompat di batas waktu

Tersenyum bunda dalam doa sendu. 



Tangan menggenggam berbagi keluh

Bersama sahabat penawar rindu

Saling kuatkan

raga yang letih lesu

Demi satu asa, ku tak kan luruh.



Jika hari ini kau menyerah

Pastikan esok kau akan melangkah

Masa depan tak semudah berkata

Harus berjuang sekuat tenaga. 


Boleh jatuh tapi jangan putus asa

Genggam erat seluruh cita

Lukis dalam rinai penuh warna

Sukses itu pasti milik kita. 



Kita akan mengguncang dunia

Lambungkan kisah sukses milik kita

Saling mendukung tak kenal lelah

Demi tugas belajar yang mulia. 


Jangan menyerah kawan

Kobarkan asa dan cita

Bersama kita pasti bisa

Karena kita adalah sang *JUARA*.

Senin, 21 Agustus 2023

MALANG


Pagi ini di kotaku

Dingin menyelusup ke tulang sulbi

Mengisi peparu dengan udara kaya nutrisi

Ditimpali siluet sang surya yang jengah

Menyemburat di antara kanopi dan pucuk cemara. 


Pegunungan menjulang laksana penjaga bentala

Membentang berdzikir dalam tapak kuasa Sang Ilahi

Sepotong surga yang diletakkan di sini, 

Di Kota Malangku ini. 


Senyum kami ramah membuncah

Menyungging di tiap sudut kota

Menggiring seribu langkah

Untuk kembali kesini 

mencumbui dalam renjana. 


Malang, 19 Agustus 2023

Rinaimu yang Palsu

 


Rinaimu yang Palsu

Oleh: Widya Arema

 

Langkah tertatih berbalut rimpuh

Air mata berkawin dengan peluh

Berderai membasahi hati yang rumpang

Hampa tiada tersentuh.

 

Secawan hati yang kusuguhkan di altar kisahmu

Kau ludahi dengan semena

Menjambak rasa sadarku

Akan semua kepalsuan latimu.

 

Aku jelata yang berjuang dalam rinaimu

Terhanyut dalam cinta berbalut senyum palsu

Katup hatimu terlanjur terbungkam

Kuketuk dengan semena

Namun tertutup tiada celah.

 

Kini aku akan pergi

Saat kulepas oksigen terakhir

Meninggalkan jejakmu

Yang kemudian lenyap ditelan sepi.

Senin, 14 Agustus 2023

RINDU

Tergugu aku di sudut keluh

Menggambar senyummu yang biru

Pada senja yang riuh aku merayu

Bolehkah kutitipkan sketsa rinduku. 


Tersekat rinduku, di ubun-ubun senja

Mendekap, merayu sang waktu agar mau sekedar singgah

Hadirkan rinai yang luruh dalam tapa

Melengkung, bersisihan dengungkan rapal mantra. 


Sungguh aku telah menitipkan pada sang bentala

Pelangi rasa resah berkawin renjana

Layaknya sindur beradu selimut malam di batas senja

Sekejap... 

Namun mencipta arupa warna. 


Untukmu yang tersenyum disana.. 

AKU RINDU


AKU RINDU

Malang dan Rindu yang Bersemi

Malang dan Rindu yang Bersemi Widya Arema Jeda waktu antara kopdar ketiga penulis KBMN menuju kopdar keempat terasa begitu panjang hingga ta...