Malang dan Rindu yang Bersemi
Widya Arema
Jeda waktu antara kopdar ketiga penulis KBMN menuju kopdar keempat terasa begitu panjang hingga tanpa sadar kami terlena. Waktu seakan mengajak kami menyusuri labirin sunyi yang berliku, sampai akhirnya tersadar bahwa ia telah berlari jauh menyisakan hanya tiga bulan di genggaman. Maka, persiapan untuk sebuah ajang nasional yang akan menghimpun penulis dari seluruh penjuru negeri pun harus digelar dengan langkah-langkah cepat.
Sesuai kesepakatan awal, Kota Malang dipilih sebagai lokasi kopdar kali ini. Ya, Kota Malang, kota tempat aku dilahirkan, menetap, dan merajut serpihan kisah hidupku. Kota yang sejuk udaranya, elok panoramanya, serta kaya akan destinasi wisata yang memanjakan mata dan rasa.
Sebagai tuan rumah, seperti sudah menjadi kebiasaan, aku dianggap memiliki banyak referensi tentang Kota Malang. Maka tanpa banyak tanya, aku dipercaya mengemban amanah sebagai sie acara pada kopdar penulis keempat ini.
Namun, qadarullah… tahun 2025 menjadi tahun terberat dalam perjalanan hidupku. Ujian yang tak pernah sedikit pun terlintas di benakku datang menghampiri keluarga kami. Hari-hari kulalui dengan jatuh dan bangun, tangis dan air mata yang seolah setia menemani langkah. Di tengah kondisi itu, keraguan mulai menyelinap, akankah aku mampu menjalankan tugas ini dengan maksimal?
Keresahan itu kuceritakan kepada Teh NDY, sahabat dekat yang selalu menjadi tempatku berbagi. Aku juga meminta pandangan kepada Tazah Emut, yang tak pernah lelah memberi dukungan atas apa pun keputusan yang kuambil. Mereka menyarankan fokus pada keluarga dulu. Dengan hati yang berat, akhirnya kusampaikan kegundahan yang sejak lama menari di benakku kepada ibu ketua.
“Kak Ewi, maaf jika kali ini aku tidak bisa menjalankan tugas dengan maksimal,” ucapku lirih.
“Tenaga dan pikiranku tengah tercurah sepenuhnya untuk anak dan keluargaku,” lanjutku, hampir berbisik.
Namun, tanggapan Kak Helwiyah selaku ketua kopdar kali ini justru menjadi penawar bagi beban yang kupikul.
“Jeng, fokuslah pada keluarga. Serahkan urusan acara kepada teman-teman. Insyaallah, semuanya akan berjalan dengan baik,” tuturnya tenang.
Kalimat sederhana itu menjelma pelukan hangat yang menguatkanku bahwa dalam kebersamaan, tak ada beban yang harus dipikul sendirian.
Begitulah akhirnya, aku tak sepenuhnya fokus mengurusi acara ini. Sebagai seseorang yang terbiasa bekerja secara profesional, ada rasa malu yang diam-diam menyelinap ke relung hati, sebab kali ini aku tak mampu menjalankan amanah dengan optimal. Namun aku bersyukur, semesta menghadiahkanku sahabat-sahabat yang setia menguatkan. Bersama mereka, kisah dan tugas dibagi, lelah batin pun bisa bersandar sejenak.
Berbekal kalimat Bismillah serta dukungan terbaik dari keluarga dan sahabat, aku tetap mampu hadir dan ikut meramaikan kopdar kali ini, meski dengan langkah yang tak sekuat biasanya.
Ketika hati telah dirundung rindu, sesungguhnya tak ada alasan untuk menunda pertemuan. Memang, minimnya animo peserta, terhalang jarak yang jauh, ongkos perjalanan, serta kesibukan di sekolah masing-masing membuat kopdar kali ini berlangsung dengan jumlah peserta yang terbatas. Namun semangat para panitia justru berkobar, laksana nyala api yang tak pernah padam. Mereka menjahit harapan demi harapan, hingga akhirnya satu kenyataan indah terwujud di hadapan mata: pertemuan yang penuh makna.
Inilah kami sekumpulan penulis yang menolak berdamai dengan rindu. Bagi kami, rindu bukan untuk dipelihara terlalu lama. Rindu harus menemukan ujungnya. Hanya ada satu kata : rindu ini harus segera berujung temu.
Persiapan selanjutnya melesat bak roller coaster. Menanjak, menukik, lalu terjun bebas diiringi teriakan riuh yang tak pernah reda. Setiap kekurangan di satu sisi segera ditambal oleh gerak cepat tim yang sigap dan penuh kepedulian. Keterbatasan dana akibat minimnya peserta pun terjawab oleh uluran tangan para donatur berhati mulia, yang turut menyokong pertemuan ini, untuk sebuah temu yang lahir dari rasa rindu.
Sebagai sie acara, tugasku tak kalah riweuh. Aku harus memastikan setiap rangkaian acara berjalan aman, tertib, dan lancar. Untuk kegiatan studi banding literasi, panitia sepakat memilih sekolahku, MI Khadijah. Sebuah kepercayaan yang membanggakan, sebab sekolah ini dinilai sebagai salah satu sekolah swasta unggulan di Kota Malang, dengan ragam prestasi yang telah terukir.
Tak hanya itu, daftar destinasi wisata yang wajib dikunjungi pun menjadi bagian dari tanggung jawabku. Menyusun perjalanan agar tak sekadar berjalan, tetapi juga berkesan.
Ada keistimewaan tersendiri pada kopdar keempat ini. Jika biasanya para narasumber hanya hadir melalui layar virtual Zoom, kali ini empat narasumber berkenan hadir secara luring. Kehadiran mereka seolah menjadi penegas bahwa kopdar ini bukan sekadar agenda, melainkan perayaan perjumpaan. Hangat, nyata, dan penuh makna.
Tak main-main narasumber di kopdar 4 ini, antara lain Pofesor. Dr. Ngainun Naim, M.H.I selaku guru besar UIN Sayid Rahmatullah, Dr. Mudafiatun Isriyah, M.Pd, GPM dosen UNIPAR Jember, konselor dan mediator, Dr Daswatia Astuty, M.Pd pegiat literasi dari Makasar, Dr. Much. Khoiri, M.S.I dosen Unesa, dan Dr. Abdul Khaer, M.Pd selaku kepala BBGTK Provinsi Jawa Timur. Sebuah kehormatan dan kesempatan langka bertemu dengan para penulis andal yang peduli dengan dunia literasi.
Alhamdulillah, rasa syukur tak henti-hentinya mengalir dari lisan kami. Kopdar keempat pun berlangsung dengan lancar, seolah setiap ikhtiar yang dititipkan pada langit dijawab dengan kemudahan. Wajah-wajah sumringah yang saling melepas rindu menjadi pemandangan paling indah menghangatkan hati siapa pun yang menyaksikannya.
Pelukan kangen menebas sekat ruang dan waktu, meluruhkan perbedaan suku dan latar belakang yang selama ini hanya terhubung lewat layar kaca. Udara dipenuhi getar rindu yang menguar, sementara kata-kata cinta dan kasih sayang mengalun lembut, bak buluh perindu yang merintih dalam keheningan.
Alhamdulillah, Allah memudahkan ikatan silaturahmi ini. Kami yang terpisah oleh ribuan kilometer. Kami yang berbeda bahasa dan suku. Pada akhirnya menyatu dalam satu rasa, satu makna, dan satu kata yang sama yakni: RINDU.
Terima kasih telah singgah di Kota Malang. Kota rindu yang selalu membuka pelukan bagi siapa saja yang mengunjungnya. Semoga tiga hari kebersamaan ini menjadi simpul pengikat silaturahmi di antara kita, yang kelak tak mudah terurai oleh jarak dan waktu.
Kenanglah saat-saat kita berdendang sepanjang perjalanan, di dalam bus yang setia mengantar menuju tujuan. Biarlah tawa dan nada yang terlantun menjelma kenangan yang tak lekang oleh waktu. Kepanikan kecil ketika suara di zoom tak terdengar, kiranya menjadi bumbu rindu kisah sederhana yang kelak mengundang senyum saat diingat kembali.
Teriakan ketakutan saat wahana roller coaster meluncur deras di Jatim Park 3, biarlah menjadi cerita yang terus bergema menghidupkan kembali adrenalin dan tawa yang pernah kita bagi bersama.
Terima kasih, sahabat-sahabat literasi, atas kerja keras dan kekompakan yang terjalin indah. Dalam segala keterbatasan, kita mampu mewujudkan mimpi bersama. Terima kasih telah menyisihkan satu ruang di hati kalian untuk selalu merawat rindu akan perjumpaan.
Sampai jumpa di kopdar selanjutnya, di Banten. Di sanalah kita akan kembali mengukir kenangan dengan kisah yang lebih seru, lebih hangat, dan tentu saja, lebih bermakna. See you again.
